Post

First ride with Dahon – The legend of Folding bike

In Uncategorized on June 11, 2011 by bhiezoel Tagged: , , , , , , , , , ,

Pagi ini, pertama kali nyobain sepeda lipat (SeLi) merk Dahon, merk yang legendaris dikalangan SeLi. Udah lama memimpikan bisa menunggangi atau lebih tepatnya menyiksa sepeda, mengingat bobot tubuh seberat ini :D
Selama ini pake sepeda Lipat merk Polygon, yang katanya membeli lisensi Dahon (DLT – Dahon License Technology) dalam membuat produknya, jadi designnya mirip banget sama produknya Dahon. Entah karena pikiran udah terlalu teracuni dgn merk ini, makanya penilaian terhadap sepedanya menjadi subjektif.
Yang saya rasakan ketika naik sepeda ini, stangnya bisa lebih tinggi dari sadel, ini bikin riding position menjadi lebih tegak, khas nya city ride. Berbeda dgn SeLi Polygon saya, untuk bisa mencapai posisi enak untuk gowes, sadel harus diset lebih tinggi, sehingga nyaris sejajar dgn stang…posisinya jadi sedikit membungkuk seperti naik MTB. untuk jarak lumayan jauh, bikin pinggang cepet pegel.
Trek pintu tol buah batu – Perempatan Sukarno hatta-buah batu sebagai trek pemanasan dapat dilibas dgn mudah, kontur jalan yang sedikit menanjak dgn jarak tempuh kira-kira 2 KM, dgn SeLi ini mudah dilalui. Entah mungkin karena saya sudah terbiasa pake MTB dgn roda 26″ dan trek yang lumayan jauh dan tanjakan yang terjal, jadi melibas jalan raya dgn roda 20″ masih terasa ringan.
Selanjutnya tantangan selama pergi ke kantor pake sepeda ada di jl Sumbawa, jalan menanjak meskipun kemiringannya mungkin cuman sekitar 20 derajat, tapi karena perjalanan dari rumah sampai ke jl sumbawa ini cukup jauh, sering kewalahan melibas jalan ini sampai ke lapangan saparua. Pagi ini dengan SeLi impian dilalui dgn mudah, bahkan tanpa perlu mengganti gigi, tetap di level paling rendah.
Kalo biasanya dari jalan sumbawa ini belok kanan ke lapangan Saparua trus ke jl. Riau dan lanjut ke Banda, pagi ini ngetest nyali lewat jl Dago, jadi belok kiri menuju Riau Junction.
Kalo selama ini ga pernah berani lewat dago naik sepeda, karena jalannya menanjak panjang, pagi ini bisa dilalui pake SeLi dengan selamat.
Kalo pake MTB dan lewat jalur yang biasa sya lalui, perjalanan tidak pake berhenti kecuali di lampu merah. Dgn SeLi,perlu berhenti sekali untuk minum. Karena botol minum disimpan ditas, jd proses pengambilan dan penyimpanan botol minuman cukup untuk dipakai istirahat mengambil nafas. Bisa juga seh jadi alesan karena emang ga kuat….he he he
Secara umum (menurut saya) ke kantor naik sepeda pagi, lebih nyaman pake sepeda lipat ini dibandingkan dgn penggunaan MTB, terutama dalam hal riding position nya….lebih nyaman dan ga bikin cepet capek.

Faktor-faktor yang membedakan SeLi ini si Candy (my MTB) dlm konteks perjalanan Rumah – Kantor :
1. SeLi pake ban 20″ untuk jalan raya dgn lebar tapak kecil (1.75), sedangkan si Candy pake ban 26″ dgn ban untuk light XC dgn lebar tapak 1.95
2. Riding position Seli lebih nyaman untuk dipake dijalan raya.
3. Seli ini jauh lebih ringan dibanding Candy, sehingga tenaga yang biasa dilatih menggunakan candy tersalur lebih rata jika pake SeLi ini.

Sekali lagi, catatan ini dibuat dgn pertimbangan yang sangat subyektif, tidak pake alat ukur, dan sangat dipengaruhi pikiran thd merk Sepeda, dan belum mencoba merk lain selain yang disebutkan dlm tulisan ini.

catatan :
- Jarak Rumah-Kantor +/- 11 KM ,
- kontur jalan menanjak landai.
- banyak stop n go di lampu merah
- SeLi Polygon type Metro 1.0 dgn ban 16″
- Candy adalah sepeda MTB hardtail dgn spek Light XC
- SeLi Dahon type Eco3 yang digunakan merupakan type terendah yang sempat dijual di Indonesia dlm kurun waktu 5 thn terakhir (CMIIW). tidak dilengkapi mud guard (sepatbor/ slebor), bag carrier (boncengan belakang utk tas), dan lubang untuk tempat minum. Karena belum “resmi” jd hak milik belum berani modifikasi taruh tempat minum.

Post

More than Words

In Uncategorized on June 11, 2011 by bhiezoel Tagged: , , , , ,

Saying I love you
Is not the words I want to hear from you
It’s not that I want you
Not to say, but if you only knew
How easy it would be to show me how you feel
More than words is all you have to do to make it real
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cos I’d already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you
More than words

Now I’ve tried to talk to you and make you understand
All you have to do is close your eyes
And just reach out your hands and touch me
Hold me close don’t ever let me go
More than words is all I ever needed you to show
Then you wouldn’t have to say that you love me
Cos I’d already know

What would you do if my heart was torn in two
More than words to show you feel
That your love for me is real
What would you say if I took those words away
Then you couldn’t make things new
Just by saying I love you
More than words

Extreme

Post

Mental anak negeri

In Uncategorized on March 18, 2011 by bhiezoel Tagged: , , , , , , , , ,

Saya dapat dari milis, isinya bener-bener luar biasa. mari nikmati :

Say YES to GAMBARU!
By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.

Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu :

motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama),
motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih dan lebih lagi).

Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru.

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja.
Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan)

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”.

Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu”
(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.).

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.

Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri.

Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!).

Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must!

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur.
Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia.

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain.

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan.

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan.

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini?

Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV.

Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV.
Jadi yang ada apaan dong?

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV :

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas.

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang.

Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu.

Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup.

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan.
Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin” Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang…..

I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju.

Kalau ditilik lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup.

Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja.

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau.

Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini.
Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya.

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang.

Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya.

Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu.

Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang.

Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga.

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati :

Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu.

(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang).

Say YES to GAMBARU!

Post

New kid on the block

In Uncategorized on November 11, 2009 by bhiezoel

Muhammad Syaabil Mubasyir

Kehadiranmu melengkapi kesempurnaan

menambah ramai suasana

menjumlah warna kehidupan

melengkapi orkestrasi gotong royong

 

Nampak sudah gelak tawa saat bercanda

Terbayang jerit dan tangis mu digoda

 

Abangmu tak sabar menanti dirumah untuk sekedar melihatmu menangis

atau mengelus pipimu yang tembem

bak kue apem yang siap dimakan

atau bahkan memaksa membuatmu tersenyum

dan melihat pipimu mengeluarkan lesung

menambah gagah tampilan

 

Jadilah penerus bangsa yang taat pada agama

Nurut dan taat kepada ibu dan ayah

menjadi imam yang baik dimanapun kamu berada

meng-inspirasi semua orang untuk berbuat baik

menjadi luar biasa untuk menuju syurga

 

Selamat datang didunia fana

dunia penuh dengan kebohongan, kebencian, kemunafikan

kekerasan mewarnai derap langkah

cucuran air mata mengalir tiap detik

jerit memekakan telinga

ketidakaturan mewarnai perjalanan hidup

 

Jadikan dunia disekitarmu menuju yang lebih baik

ubahlah kebobrokan menjadi kebaikan

ubahlah kemunafikan menjadi ketaatan

ubahlah kehinaan menjadi keridhoan

 

Baurkan diri untuk membuat duniamu menjadi lebih indah

ubahlah tangis menjadi tawa ubahlah hina menjadi puji

ubahlah sombong menjadi zuhud

 

Gantilah topeng-topeng kemunafikan dengan wajah bersinar penuh ibadah

ubahlah cucuran air mata dengan limpahan sedekah

ubahlah ketidakaturan menjadi kerharmonisan

ubahlah irama menjadi orkestrasi yang indah

 

Jadikan dirimu lebih baik dari yang lain

tak perlu kau banggakan prestasimu jika hanya untuk menjadi sombong

siapkan dirimu dengan ilmu dan pengetahuan

simpanlah ilmumu untuk diamalkan

praktekan pengetahuan dalam keseharian

 

Make it better

Hijrahlah

Sebaik-baik manusia adalah yang berbuat lebih baik

Tidak ada hal yang baik dibangun dari pilar yang buruk

 

Welcome home kid

we love you full

Post

Manager

In Philosophy on November 11, 2009 by bhiezoel Tagged: , ,

Use others as resources

a manager has to be good at this !!!

Post

Ojo kagetan, Ojo gumunan, lan ojo Dumeh

In Uncategorized on November 10, 2009 by bhiezoel

Ojo Kagetan :

Biar ga kaget (atau kagetan),  seseorang harus mempersiapkan diri dengan belajar, mengasah keterampilan, kemampuan, keahlian, pengetahuan, dan open mind.  Hal ini ditujukan agar dalam menghadapi segala sesuatu sudah siap, punya ilmu, punya pengetahuan dan dapat ‘membaca’ situasi / sesuatu yang terjadi.

Ojo Gumunan :

Orang yang punya ilmu, pengetahuan, keahlian, dan kemampuan tidak akan heran (gumun)  ‘melihat’ sesuatu karena dia sudah siap.

Ojo Dumeh :

Orang yang berilmu  tinggi, dapat berbuat kerusakan jika beliau menggunakan ilmunya dengan semena-mena, sembarangan.  Oleh karenanya, kestaria tidak boleh sembarangan menggunakan ilmunya.

 

 

Post

Bad Question

In Uncategorized on November 10, 2009 by bhiezoel

The only bad question is the one you don’t ask !!!

Post

Stupid Question

In Uncategorized on November 9, 2009 by bhiezoel

No Stupid Questions, Only Stupid answers.

 

 

Post

Solutions

In Uncategorized on November 8, 2009 by bhiezoel

There is always a solution but there is never a most correct one

Post

Terlambat

In Uncategorized on November 7, 2009 by bhiezoel Tagged: , , ,

Terlambat bukanlah sebuah momok untuk dikenang, tidaklah penyesalan yang dihadapkan hanya sebuah harapan agar pikiran tetap bisa menerima dan berkembang.

Di media ini aku tuliskan apa yang kupikir dan kurasa, kubagi dengan dirimu disana, semoga terlatih pikiran yang terbuka.

Beda perspektif antar manusia bukanlah hal yang aneh, malah memperkaya khazanah jiwa. semoga pembaca berkenan.

Selamat menikmati atau sekedar lewati.  jangan ada umpat diantara kita

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.